Jumat, 20 Desember 2013

motivasi



I.                   PENGERTIAN MOTIVASI
Motivasi berasal dari kata motif ( motive ), yang berarti rangsangan, dorongan dan ataupun pembangkit tenaga, yang dimiliki seseorang sehingga  orang tersebut memperlihatkan perilaku tertentu. Motif merupakan suatu pengertian yang melengkapi semua penggerak alasan-alasan    atau   dorongan-dorongan    dalam    diri  manusia  yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu. Semua tingkah laku manusia pada dasarnya mempunyai motif termasuk tingkah laku secara reflek dan yang berlangsung secara otomatis mempunyai maksud tertentu, walaupun maksud itu tidak senantiasa disadari manusia (Swanburg Russel, 2000). Motivasi juga merupakan upaya untuk menimbulkan rangsangan atau dorongan tenaga tertentu pada seseorang agar mau berbuat dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Irwanto, 1991). Motivasi atau upaya untuk memenuhi kebutuhan pada seseorang dapat dipakai sebagai alat untuk menggairahkan seseorang untuk giat melakukan kewajibannya tanpa harus diperintah atau diawasi (Dirgahunarso Singgih, 1992). Motivasi sering disebut sebagai penggerak perilaku ( the energizer of  behavior ) Motivasi adalah penentu ( determinan ) perilaku, dengan kata lain  motivasi adalah konstruk teoritis mengenai terjadinya perilaku.
Motivasi menjadi suatu kekuatan, tenaga atau daya, atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari (Makmun, 2003). Motivasi seseorang dapat ditimbulkan dan tumbuh berkembang melalui dirinya sendiri-intrinsik dan dari lingkungan-ekstrinsik (Elliot et al., 2000; Sue Howard, 1999). Motivasi intrinsik bermakna sebagai keinginan dari diri sendiri untuk bertindak tanpa adanya rangsangan dari luar (Elliott, 2000). Motivasi intrinsik akan lebih menguntungkan dan memberikan keajegan dalam belajar. Motivasi ekstrinsik dijabarkan sebagai motivasi yang datang dari luar individu dan tidak dapat dikendalikan oleh individu tersebut (Sue Howard, 1999). Elliott et al. (2000), mencontohkannya dengan nilai, hadiah, dan/atau penghargaan yang digunakan untuk merangsang motivasi seseorang.
Berikut adalah pengertian motivasi menurut para ahli :
§  Menurut Weiner (1990) yang dikutip Elliot et al. (2000), motivasi didefinisikan sebagai kondisi internal yang membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kita mencapai tujuan tertentu, dan membuat kita tetap tertarik dalam kegiatan tertentu.
§  Menurut Uno (2007), motivasi dapat diartikan sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya; hasrat dan minat; dorongan dan kebutuhan; harapan dan cita-cita; penghargaan dan penghormatan.
§  Menurut Sargent, dikutip oleh Howard, 1999, motivasi adalah sesuatu apa yang membuat seseorang.
§  Menurut  Siagian, 2004 menyatakan bahwa motivasi merupakan dampak dari interaksi seseorang dengan situasi yang dihadapinya.
§  Menurut Wexley & Yukl (dalam As’ad, 1987) motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif.
§  Menurut Mitchell (dalam Winardi, 2002) motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu.
§  Menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.
§  Morgan (dalam Soemanto, 1987) mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku (motivating states), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut (goals or ends of such behavior).
§  McDonald (dalam Soemanto, 1987) mendefinisikan motivasi sebagai perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula (Suprihanto dkk, 2003).
§  Soemanto (1987) secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah energi aktif yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan pada diri sesorang yang nampak pada gejala kejiwaan, perasaan, dan juga emosi, sehingga mendorong individu untuk bertindak atau melakukan sesuatu dikarenakan adanya tujuan, kebutuhan, atau keinginan yang harus terpuaskan.

II.                HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI
Motivasi seseorang sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu :
a.       Faktor Internal; faktor yang berasal dari dalam diri individu, terdiri atas:
1.      Persepsi individu mengenai diri sendiri; seseorang termotivasi atau tidak untuk melakukan sesuatu banyak tergantung pada proses kognitif berupa persepsi. Persepsi seseorang tentang dirinya sendiri akan mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang untuk bertindak.
2.      Harga diri dan prestasi; faktor ini mendorong atau mengarahkan inidvidu (memotivasi) untuk berusaha agar menjadi pribadi yang mandiri, kuat, dan memperoleh kebebasan serta mendapatkan status tertentu dalam lingkungan masyarakat; serta dapat mendorong individu untuk berprestasi.
3.      Harapan; adanya harapan-harapan akan masa depan. Harapan ini merupakan informasi objektif dari lingkungan yang mempengaruhi sikap dan perasaan subjektif seseorang. Harapan merupakan tujuan dari perilaku.
4.      Kebutuhan; manusia dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjadikan dirinya sendiri yang berfungsi secara penuh, sehingga mampu meraih potensinya secara total. Kebutuhan akan mendorong dan mengarahkan seseorang untuk mencari atau menghindari, mengarahkan dan memberi respon terhadap tekanan yang dialaminya.
5.      Kepuasan kerja; lebih merupakan suatu dorongan afektif yang muncul dalam diri individu untuk mencapai goal atau tujuan yang diinginkan dari suatu perilaku.
b.      Faktor Eksternal; faktor yang berasal dari luar diri individu, terdiri atas:
1.      Jenis dan sifat pekerjaan; dorongan untuk bekerja pada jenis dan sifat pekerjaan tertentu sesuai dengan objek pekerjaan yang tersedia akan mengarahkan individu untuk menentukan sikap atau pilihan pekerjaan yang akan ditekuni. Kondisi ini juga dapat dipengartuhi oleh sejauh mana nilai imbalan yang dimiliki oleh objek pekerjaan dimaksud.
2.      Kelompok kerja dimana individu bergabung; kelompok kerja atau organisasi tempat dimana individu bergabung dapat mendorong atau mengarahkan perilaku individu dalam mencapai suatu tujuan perilaku tertentu; peranan kelompok atau organisasi ini dapat membantu individu mendapatkan kebutuhan akan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, kebajikan serta dapat memberikan arti bagi individu sehubungan dengan kiprahnya dalam kehidupan sosial.
3.      Situasi lingkungan pada umumnya; setiap individu terdorong untuk berhubungan dengan rasa mampunya dalam melakukan interaksi secara efektif dengan lingkungannya;
4.      Sistem imbalan yang diterima; imbalan merupakan karakteristik atau kualitas dari objek pemuas yang dibutuhkan oleh seseorang yang dapat mempengaruhi motivasi atau dapat mengubah arah tingkah laku dari satu objek ke objek lain yang mempunyai nilai imbalan yang lebih besar. Sistem pemberian imbalan dapat mendorong individu untuk berperilaku dalam mencapai tujuan; perilaku dipandang sebagai tujuan, sehingga ketika tujuan tercapai maka akan timbul imbalan.

Terdapat beberapa teori dan definisi tentang motivasi maka dapat dipahami bahwa bila pada individu terdapat bermacam-macam motif yang mendorong dan menggerakkan manusia untuk melakukan kegitan-kegiatan dalam mencapai tujuan serta memenuhi kebutuhan hidup dalam rangka mempertahankan eksistensinya (Wim de Jong Syamsu Hidayat, 1997). Motivasi dipengaruhi oleh :
a.       Energi merupakan sumber energi yang mendorong tingkah laku, sehingga seseorang mempunyai kekuatan untuk mampu melakukan suatu tindakan tertentu .
b.      Belajar, dinyatakan bahwa ada interaksi antara belajar dan motivasi dalam tingkah laku. Semakin banyak seseorang mempelajari sesuatu maka ia akan lebih termotivasi untuk bertingkah laku sesuai dengan yang pernah dipelajarinya.
c.       Interaksi sosial, dinyatakan bahwa interaksi social dengan individu lain akan mempengaruhi motivasi bertindak.  Semakin sering    seseorang berinteraksi dengan orang lain akan semakin mempengaruhi motivasi seseorang untuk melakukan tindakan tertentu.
d.       Proses kognitif yaitu informasi yang masuk pada seseorang diserap kemudian diproses dan pengetahuan tersebut untuk kemudian mempengaruhi tingkah laku.

III.             MANFAAT MOTIVASI
Manfaat motivasi dapat kita rasakan karena motivasi merupakan sebuah dorongan tak terlihat yang menjadi penyemangat untuk kita melakukan sesuatu. Adanya motivasi sangat diperlukan karena tanpa memiliki motivasi kita bagaikan kehilangan gairah hidup. Tujuan dari motivasi ialah sarana untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Suatu tindakan memotivasi atau memberikan motivasi akan lebih dapat berhasil jika tujuannya jelas dan disadari oleh pihak yang diberi motivasi serta sesuai dengan kebutuhan orang yang dimotivasi. Oleh karena itu, setiap orang yang akan diberikan motivasi harus mengenal dan memahami benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan, dan kepribadian yang akan dimotivasi, termasuk di dalamnya antara seorang guru dan siswanya. Sebagai contoh, seorang guru memberikan pujian kepada seorang siswa yang maju ke depan kelas dan dapat mengerjakan hitungan matematika di papan tulis. Dengan pujian itu, dalam diri anak tersebut timbul rasa percaya diri, di samping iti timbul keberaniannya sehingga ia tidak takut dan malu lagi jika disuruh maju ke depan kelas (Purwanto, 2007). Menurut Hamalik (1992) fungsi motivasi yaitu :
1.      mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan seperti belajar.
2.      sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan
3.      sebagai penggerak, ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Menurut Sardiman A.M. ada tiga manfaat atau fungsi motivasi yaitu :
1.        Mendorong manusia untuk berbuat
2.        Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai.
3.        Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbutan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan.

IV.             PENGEMBANGAN MOTIVASI
Agar kegiatan individu memberikan hasil yang efektif maka perlu adanya motif yang kuat dan untuk itu perlu ada usaha-usaha untuk membengkitkannya. Jadi motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi dan situasi sehingga individu itu melakukan kegiatan apa yang dapat dilakukannya. Bentuk-bentuk motivasi itu antara lain:
1.    Kompetisi/persaingan (Competition)
Kompetisi ada dua jenis: 1.kompetisi dengan prestasi diri sendiri; 2.kompetisi dengan orang lain.
2.   Pace making (Mendekatkan Tujuan)
Agar tujuan tidak nampak jauh, maka perlu ada tujuan-tujuan sementara yang dekat.
3.   Tujuan yang jelas dan diakui
Semakin jelas dan berarti tujuan yang ingin dicapai maka semakin besar motif untuk mencapainya.
4.    Minat
Minat yang besar dapat ditimbulkan dengan cara:
a.       Membangkitkan suatu kebutuhan.
b.      Menghubungkan dengan pengalaman-pengalaman yang lampau.
c.       Memberikan kesempatan untuk sukses.

Cara lain untuk mengembangkan motivasi yang kita miliki adalah
1.    Fokus pada Tujuan Kita
Salah satu cara terbaik untuk motivasi mencapai tujuan yang diinginkan adalah berpikir secara matang. Jangan sampai kita terobsesi tentang hal itu, tetapi bagaimana cara yang harus dilakukan dan fokuskanlah pada tujuan tersebut. Langkah ini dapat membantu kita agar tidak kewalahan.
2.    Memahami Proses
Dengan adanya sebuah proses, kita dapat terhindar dari rasa kewalahan dan frustasi. Kita secara otomatis akan termotivasi untuk mencapai tujuan dengan perkembangan secara bertahap. Hal ini membutuhkan waktu bagi seseorang untuk mengembangkan kebiasaan baru dan menjadikannya bagian dari rutinitas mereka. Jadi jangan mengharapkan keajaiban dalam hitungan detik. Beri diri kita waktu untuk menyesuaikannya.
3.    Rayakan Keberhasilan kita
Setiap langkah yang kita ambil untuk mencapai tujuan itu sangat berharga. Segala perjuangan dan rintangan telah kita jalankan. Jadi jika sudah mencapai puncak keberhasilan, maka kita layak memanjakan diri untuk merayakannya. Berkat motivasi dalam dirilah yang bisa membuat kita berhasil.
4.    Mengubah Pola Pemikiran kita
Cara lain yang dapat membantu kita untuk mendapatkan inspirasi adalah dengan mengubah pola pikir dan melihat kemungkinan hambatan yang akan dihadapi untuk mencapai tujuan. Jangan biarkan hambatan tersebut menjadi akhir dari segalanya dan menghentikan kita untuk bergerak maju. Dengan mengubah pandangan tentang dua hal ini dapat membantu kita merasa jauh lebih baik dan kembali fokus mencapai tujuan yang diinginkan.
5.    Tetap Positif
Misalnya jika menjadi bos yang sukses dan berwibawa adalah impian kita selama ini, maka teruslah berusaha untuk mencapai impian tersebut. Tetaplah berpikir positif dan jangan biarkan pikiran negatif menguasai sehingga menghalangi langkah kita untuk mencapai kesuksesan. Berbagai macam rintangan pasti bisa dilalui asalkan kita tetap fokus pada tujuan dan tetap termotivasi untuk mencapainya.

V.                MOTIVASI PERAWAT PROFESIONAL
1.    Memiliki sikap kepribadian melayani yang baik: Perawat harus memiliki motivasi bahwa pasien harus di layani dengan hati yang tulus serta pasien itu di anggap sebagai keluarga kita sendiri yang membutuhkan pertolongan perawat. Selain itu menyadari bahwa menjadi seorang perawat itu merupakan suatu panggilan ibadah sehingga perawat benar-benar melayani sesamanya seperti melayani dirinya sendiri. Sehingga sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh seorang perawat yang meliputi sabar, jujur, lemah lembut, tanggap akan keluhan pasien, ramah, dan empati. Purwanto (2001) juga mengatakan bahwa dalam memberikan asuhan, perawat hendaknya menggunakan keahlian, kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada disamping klien, dan bersikap caring sebagai media pemberi asuhan.
2.    Memiliki intelegensi yang baik: Motivasi  bekerja seorang perawat yang profesional   adalah   ingin meningkatkan ilmu pengetahuan di dalam bidang keperawatan. Sehingga dengan melaksanakan tugas setiap hari seorang perawat jadi merasa semakin banyak ilmu yang di peroleh bahkan melalui praktek keperawatan yang dilakukan setiap hari merupakan proses peningkatan pengetahuan.
Setiap orang tentu menginginkan keberhasilan dalam setiap kegiatan/tugas yang dilaksanakan. Pencapaian prestasi atau keberhasilan (achievement) dalam melakukan suatu pekerjaan akan menggerakkan yang bersangkutan untuk melakukan tugas-tugas berikutnya (Saydam, 1996:246). Dengan demikian prestasi yang dicapai dalam pekerjaan akan menimbulkan sikap positif, yang selalu ingin melakukan pekerjaan dengan penuh tantangan.
3.    Tanggung jawab (responsibility): Menurut Flippo (1996:105), bahwa tanggung jawab adalah merupakan kewajiban seseorang untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang ditugaskan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan pengarahan yang diterima. Setiap orang yang bekerja pada suatu perusahaan/organisasi ingin dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar dari sekedar apa yang telah diperolehnya. Tanggung jawab bukan saja atas pekerjaan yang baik, tetapi juga tanggung jawab berupa kepercayaan yang diberikan sebagai orang yang mempunyai potensi. Setiap orang ingin diikutsertakan dan ingin diakui sebagai orang yang mempunyai potensi, dan pengakuan ini akan menimbulkan rasa percaya diri dan siap memikul tanggung jawab yang lebih besar. Sehingga harus tertanam rasa tanggung jawab yang besar dalam diri setiap perawat agar siap melaksanakan tugas-tugasnya.
4.    Peluang untuk maju (advance): Merupakan pengembangan potensi diri seseorang perawat dalam melakukan pekerjaan (Saydam, 1996:246). Setiap perawat tentunya menghendaki adanya kemajuan atau perubahan dalam pekerjaannya yang tidak hanya dalam hal jenis pekerjaan yang berbeda atau bervariasi, tetapi juga posisi yang lebih baik. Setiap perawat menginginkan adanya promosi ke jenjang yang lebih tinggi, mendapatkan peluang untuk meningkatkan pengalamannya dalam bekerja. Peluang bagi pengembangan potensi diri akan menjadi motivasi yang kuat bagi perawat untuk bekerja lebih baik.
 

DAFTAR PUSTAKA