I.
PENGERTIAN MOTIVASI
Motivasi berasal dari kata motif ( motive ), yang
berarti rangsangan, dorongan dan ataupun pembangkit tenaga, yang dimiliki
seseorang sehingga orang tersebut
memperlihatkan perilaku tertentu. Motif merupakan suatu pengertian yang
melengkapi semua penggerak alasan-alasan
atau dorongan-dorongan dalam
diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu.
Semua tingkah laku manusia pada dasarnya mempunyai motif termasuk tingkah laku
secara reflek dan yang berlangsung secara otomatis mempunyai maksud tertentu,
walaupun maksud itu tidak senantiasa disadari manusia (Swanburg Russel, 2000).
Motivasi juga merupakan upaya untuk menimbulkan rangsangan atau dorongan tenaga
tertentu pada seseorang agar mau berbuat dan bekerja sama untuk mencapai suatu
tujuan tertentu (Irwanto, 1991). Motivasi atau upaya untuk memenuhi kebutuhan
pada seseorang dapat dipakai sebagai alat untuk menggairahkan seseorang untuk
giat melakukan kewajibannya tanpa harus diperintah atau diawasi (Dirgahunarso
Singgih, 1992). Motivasi sering disebut sebagai penggerak perilaku ( the
energizer of behavior ) Motivasi adalah
penentu ( determinan ) perilaku, dengan kata lain motivasi adalah konstruk teoritis mengenai
terjadinya perilaku.
Motivasi menjadi suatu kekuatan, tenaga atau daya,
atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk
bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari (Makmun,
2003). Motivasi seseorang dapat ditimbulkan dan tumbuh berkembang melalui
dirinya sendiri-intrinsik dan dari lingkungan-ekstrinsik (Elliot et al., 2000;
Sue Howard, 1999). Motivasi intrinsik bermakna sebagai keinginan dari diri
sendiri untuk bertindak tanpa adanya rangsangan dari luar (Elliott, 2000).
Motivasi intrinsik akan lebih menguntungkan dan memberikan keajegan dalam
belajar. Motivasi ekstrinsik dijabarkan sebagai motivasi yang datang dari luar
individu dan tidak dapat dikendalikan oleh individu tersebut (Sue Howard,
1999). Elliott et al. (2000), mencontohkannya dengan nilai, hadiah, dan/atau
penghargaan yang digunakan untuk merangsang motivasi seseorang.
Berikut adalah pengertian motivasi menurut para ahli
:
§ Menurut
Weiner (1990) yang dikutip Elliot et al. (2000), motivasi didefinisikan
sebagai kondisi internal yang membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong
kita mencapai tujuan tertentu, dan membuat kita tetap tertarik dalam kegiatan
tertentu.
§ Menurut
Uno (2007), motivasi dapat diartikan
sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan
dengan adanya; hasrat dan minat; dorongan dan kebutuhan; harapan dan cita-cita;
penghargaan dan penghormatan.
§ Menurut
Sargent, dikutip oleh Howard, 1999, motivasi adalah sesuatu apa yang membuat
seseorang.
§ Menurut Siagian, 2004 menyatakan bahwa motivasi
merupakan dampak dari interaksi seseorang dengan situasi yang dihadapinya.
§ Menurut
Wexley & Yukl (dalam As’ad, 1987) motivasi adalah pemberian atau penimbulan
motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif.
§ Menurut
Mitchell (dalam Winardi, 2002) motivasi mewakili proses- proses psikologikal,
yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan-
kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu.
§ Menurut
Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang
bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan
timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan-
kegiatan tertentu.
§ Morgan
(dalam Soemanto, 1987) mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga
hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut
adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku (motivating states),
tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior),
dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut (goals or ends of such behavior).
§ McDonald
(dalam Soemanto, 1987) mendefinisikan motivasi sebagai perubahan tenaga di
dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi
mencapai tujuan. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena
kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang
lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik
secara biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar
yang berbeda pula (Suprihanto dkk, 2003).
§ Soemanto
(1987) secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu
perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi
pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat
menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkahlaku
mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.
Dari
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah
energi aktif yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan pada diri sesorang
yang nampak pada gejala kejiwaan, perasaan, dan juga emosi, sehingga mendorong
individu untuk bertindak atau melakukan sesuatu dikarenakan adanya tujuan,
kebutuhan, atau keinginan yang harus terpuaskan.
II.
HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI
Motivasi
seseorang sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu :
a. Faktor Internal;
faktor yang berasal dari dalam diri individu, terdiri atas:
1. Persepsi
individu mengenai diri sendiri; seseorang termotivasi atau tidak untuk
melakukan sesuatu banyak tergantung pada proses kognitif berupa persepsi.
Persepsi seseorang tentang dirinya sendiri akan mendorong dan mengarahkan perilaku
seseorang untuk bertindak.
2. Harga
diri dan prestasi; faktor ini mendorong atau mengarahkan inidvidu (memotivasi)
untuk berusaha agar menjadi pribadi yang mandiri, kuat, dan memperoleh
kebebasan serta mendapatkan status tertentu dalam lingkungan masyarakat; serta
dapat mendorong individu untuk berprestasi.
3. Harapan;
adanya harapan-harapan akan masa depan. Harapan ini merupakan informasi
objektif dari lingkungan yang mempengaruhi sikap dan perasaan subjektif
seseorang. Harapan merupakan tujuan dari perilaku.
4. Kebutuhan;
manusia dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjadikan dirinya sendiri yang
berfungsi secara penuh, sehingga mampu meraih potensinya secara total.
Kebutuhan akan mendorong dan mengarahkan seseorang untuk mencari atau
menghindari, mengarahkan dan memberi respon terhadap tekanan yang dialaminya.
5. Kepuasan
kerja; lebih merupakan suatu dorongan afektif yang muncul dalam diri individu
untuk mencapai goal atau tujuan yang diinginkan dari suatu perilaku.
b. Faktor Eksternal;
faktor yang berasal dari luar diri individu, terdiri atas:
1.
Jenis dan sifat pekerjaan; dorongan
untuk bekerja pada jenis dan sifat pekerjaan tertentu sesuai dengan objek
pekerjaan yang tersedia akan mengarahkan individu untuk menentukan sikap atau
pilihan pekerjaan yang akan ditekuni. Kondisi ini juga dapat dipengartuhi oleh
sejauh mana nilai imbalan yang dimiliki oleh objek pekerjaan dimaksud.
2.
Kelompok kerja dimana individu
bergabung; kelompok kerja atau organisasi tempat dimana individu bergabung
dapat mendorong atau mengarahkan perilaku individu dalam mencapai suatu tujuan
perilaku tertentu; peranan kelompok atau organisasi ini dapat membantu individu
mendapatkan kebutuhan akan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, kebajikan serta
dapat memberikan arti bagi individu sehubungan dengan kiprahnya dalam kehidupan
sosial.
3.
Situasi lingkungan pada umumnya; setiap
individu terdorong untuk berhubungan dengan rasa mampunya dalam melakukan
interaksi secara efektif dengan lingkungannya;
4.
Sistem imbalan yang diterima; imbalan
merupakan karakteristik atau kualitas dari objek pemuas yang dibutuhkan oleh
seseorang yang dapat mempengaruhi motivasi atau dapat mengubah arah tingkah
laku dari satu objek ke objek lain yang mempunyai nilai imbalan yang lebih
besar. Sistem pemberian imbalan dapat mendorong individu untuk berperilaku
dalam mencapai tujuan; perilaku dipandang sebagai tujuan, sehingga ketika
tujuan tercapai maka akan timbul imbalan.
Terdapat beberapa teori dan definisi tentang
motivasi maka dapat dipahami bahwa bila pada individu terdapat bermacam-macam
motif yang mendorong dan menggerakkan manusia untuk melakukan kegitan-kegiatan
dalam mencapai tujuan serta memenuhi kebutuhan hidup dalam rangka
mempertahankan eksistensinya (Wim de Jong Syamsu Hidayat, 1997). Motivasi
dipengaruhi oleh :
a. Energi
merupakan sumber energi yang mendorong tingkah laku, sehingga seseorang
mempunyai kekuatan untuk mampu melakukan suatu tindakan tertentu .
b. Belajar,
dinyatakan bahwa ada interaksi antara belajar dan motivasi dalam tingkah laku.
Semakin banyak seseorang mempelajari sesuatu maka ia akan lebih termotivasi
untuk bertingkah laku sesuai dengan yang pernah dipelajarinya.
c. Interaksi
sosial, dinyatakan bahwa interaksi social dengan individu lain akan
mempengaruhi motivasi bertindak. Semakin
sering seseorang berinteraksi dengan
orang lain akan semakin mempengaruhi motivasi seseorang untuk melakukan
tindakan tertentu.
d. Proses kognitif yaitu informasi yang masuk
pada seseorang diserap kemudian diproses dan pengetahuan tersebut untuk
kemudian mempengaruhi tingkah laku.
III.
MANFAAT MOTIVASI
Manfaat motivasi dapat kita rasakan karena motivasi
merupakan sebuah dorongan tak terlihat yang menjadi penyemangat untuk kita
melakukan sesuatu. Adanya motivasi sangat diperlukan karena tanpa memiliki
motivasi kita bagaikan kehilangan gairah hidup. Tujuan dari motivasi ialah
sarana untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Suatu tindakan memotivasi atau
memberikan motivasi akan lebih dapat berhasil jika tujuannya jelas dan disadari
oleh pihak yang diberi motivasi serta sesuai dengan kebutuhan orang yang dimotivasi.
Oleh karena itu, setiap orang yang akan diberikan motivasi harus mengenal dan
memahami benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan, dan kepribadian yang
akan dimotivasi, termasuk di dalamnya antara seorang guru dan siswanya. Sebagai
contoh, seorang guru memberikan pujian kepada seorang siswa yang maju ke depan
kelas dan dapat mengerjakan hitungan matematika di papan tulis. Dengan pujian
itu, dalam diri anak tersebut timbul rasa percaya diri, di samping iti timbul
keberaniannya sehingga ia tidak takut dan malu lagi jika disuruh maju ke depan
kelas (Purwanto, 2007). Menurut Hamalik (1992) fungsi motivasi yaitu :
1.
mendorong timbulnya kelakuan atau suatu
perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan seperti belajar.
2.
sebagai pengarah, artinya mengarahkan
perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan
3.
sebagai penggerak, ia berfungsi sebagai
mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya
suatu pekerjaan.
1.
Mendorong manusia untuk berbuat
2.
Menentukan arah perbuatan, yakni kearah
tujuan yang hendak dicapai.
3.
Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan
perbuatan-perbutan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan.
IV.
PENGEMBANGAN MOTIVASI
Agar
kegiatan individu memberikan hasil yang efektif maka perlu adanya motif yang
kuat dan untuk itu perlu ada usaha-usaha untuk membengkitkannya. Jadi motivasi
adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi dan situasi sehingga individu itu
melakukan kegiatan apa yang dapat dilakukannya. Bentuk-bentuk motivasi itu
antara lain:
1. Kompetisi/persaingan
(Competition)
Kompetisi ada dua
jenis: 1.kompetisi dengan prestasi diri sendiri; 2.kompetisi dengan orang lain.
2.
Pace making (Mendekatkan Tujuan)
Agar tujuan tidak
nampak jauh, maka perlu ada tujuan-tujuan sementara yang dekat.
3.
Tujuan yang jelas dan diakui
Semakin jelas dan berarti
tujuan yang ingin dicapai maka semakin besar motif untuk mencapainya.
4. Minat
Minat yang besar dapat
ditimbulkan dengan cara:
a. Membangkitkan
suatu kebutuhan.
b. Menghubungkan
dengan pengalaman-pengalaman yang lampau.
c. Memberikan
kesempatan untuk sukses.
Cara
lain untuk mengembangkan motivasi yang kita miliki adalah
1. Fokus
pada Tujuan Kita
Salah
satu cara terbaik untuk motivasi mencapai tujuan yang diinginkan adalah
berpikir secara matang. Jangan sampai kita terobsesi tentang hal itu, tetapi
bagaimana cara yang harus dilakukan dan fokuskanlah pada tujuan tersebut.
Langkah ini dapat membantu kita agar tidak kewalahan.
2. Memahami
Proses
Dengan
adanya sebuah proses, kita dapat terhindar dari rasa kewalahan dan frustasi.
Kita secara otomatis akan termotivasi untuk mencapai tujuan dengan perkembangan
secara bertahap. Hal ini membutuhkan waktu bagi seseorang untuk mengembangkan
kebiasaan baru dan menjadikannya bagian dari rutinitas mereka. Jadi jangan
mengharapkan keajaiban dalam hitungan detik. Beri diri kita waktu untuk
menyesuaikannya.
3. Rayakan
Keberhasilan kita
Setiap
langkah yang kita ambil untuk mencapai tujuan itu sangat berharga. Segala perjuangan
dan rintangan telah kita jalankan. Jadi jika sudah mencapai puncak
keberhasilan, maka kita layak memanjakan diri untuk merayakannya. Berkat
motivasi dalam dirilah yang bisa membuat kita berhasil.
4. Mengubah
Pola Pemikiran kita
Cara
lain yang dapat membantu kita untuk mendapatkan inspirasi adalah dengan
mengubah pola pikir dan melihat kemungkinan hambatan yang akan dihadapi untuk
mencapai tujuan. Jangan biarkan hambatan tersebut menjadi akhir dari segalanya
dan menghentikan kita untuk bergerak maju. Dengan mengubah pandangan tentang
dua hal ini dapat membantu kita merasa jauh lebih baik dan kembali fokus mencapai
tujuan yang diinginkan.
5.
Tetap Positif
Misalnya
jika menjadi bos yang sukses dan berwibawa adalah impian kita selama ini, maka
teruslah berusaha untuk mencapai impian tersebut. Tetaplah berpikir positif dan
jangan biarkan pikiran negatif menguasai sehingga menghalangi langkah kita
untuk mencapai kesuksesan. Berbagai macam rintangan pasti bisa dilalui asalkan
kita tetap fokus pada tujuan dan tetap termotivasi untuk mencapainya.
V.
MOTIVASI PERAWAT PROFESIONAL
1.
Memiliki sikap kepribadian melayani yang
baik: Perawat harus memiliki motivasi bahwa pasien harus di layani dengan hati
yang tulus serta pasien itu di anggap sebagai keluarga kita sendiri yang
membutuhkan pertolongan perawat. Selain itu menyadari bahwa menjadi seorang
perawat itu merupakan suatu panggilan ibadah sehingga perawat benar-benar
melayani sesamanya seperti melayani dirinya sendiri. Sehingga sikap dan
perilaku yang harus dimiliki oleh seorang perawat yang meliputi sabar, jujur,
lemah lembut, tanggap akan keluhan pasien, ramah, dan empati. Purwanto (2001)
juga mengatakan bahwa dalam memberikan asuhan, perawat hendaknya menggunakan
keahlian, kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu
berada disamping klien, dan bersikap caring sebagai media pemberi asuhan.
2.
Memiliki intelegensi yang baik: Motivasi bekerja seorang perawat yang profesional adalah
ingin meningkatkan ilmu pengetahuan di dalam bidang keperawatan. Sehingga
dengan melaksanakan tugas setiap hari seorang perawat jadi merasa semakin
banyak ilmu yang di peroleh bahkan melalui praktek keperawatan yang dilakukan
setiap hari merupakan proses peningkatan pengetahuan.
Setiap
orang tentu menginginkan keberhasilan dalam setiap kegiatan/tugas yang dilaksanakan. Pencapaian prestasi
atau keberhasilan (achievement) dalam melakukan
suatu pekerjaan akan menggerakkan yang bersangkutan
untuk melakukan tugas-tugas berikutnya (Saydam, 1996:246). Dengan demikian prestasi
yang dicapai dalam pekerjaan akan menimbulkan sikap positif, yang selalu ingin melakukan pekerjaan dengan penuh tantangan.
3. Tanggung jawab (responsibility): Menurut
Flippo (1996:105), bahwa tanggung jawab adalah merupakan kewajiban seseorang
untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang ditugaskan dengan sebaik-baiknya sesuai
dengan pengarahan yang diterima. Setiap orang yang bekerja pada suatu
perusahaan/organisasi ingin dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar
dari sekedar apa yang telah diperolehnya. Tanggung jawab bukan saja atas
pekerjaan yang baik, tetapi juga tanggung jawab berupa kepercayaan yang
diberikan sebagai orang yang mempunyai potensi. Setiap orang ingin
diikutsertakan dan ingin diakui sebagai orang yang mempunyai potensi, dan
pengakuan ini akan menimbulkan rasa percaya diri dan siap memikul tanggung
jawab yang lebih besar. Sehingga harus tertanam rasa tanggung jawab yang besar
dalam diri setiap perawat agar siap melaksanakan tugas-tugasnya.
4. Peluang untuk maju (advance): Merupakan pengembangan potensi diri
seseorang perawat dalam melakukan pekerjaan (Saydam, 1996:246). Setiap perawat
tentunya menghendaki adanya kemajuan atau perubahan dalam pekerjaannya yang
tidak hanya dalam hal jenis pekerjaan yang berbeda atau bervariasi, tetapi juga
posisi yang lebih baik. Setiap perawat menginginkan adanya promosi ke jenjang
yang lebih tinggi, mendapatkan peluang untuk meningkatkan pengalamannya dalam
bekerja. Peluang bagi pengembangan potensi diri akan menjadi motivasi yang kuat
bagi perawat untuk bekerja lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

